Seingat saya, sekitar tahun 2000-an dunia persekolahan sedang dilanda tren alat akademik canggih yang bernama “kamus elektronik” atau yang lebih dikenal dengan sebutan merk “Alfalink”. Kami, yang masih duduk di bangku kelas 3 SD terkesima dengan kecanggihan alat itu. Kebetulan salah satu teman saya mempunyai kamus tersebut dan jadilah alat itu sebagai mainan massal kelas kami. Kami bermain mengartikan nama kami dalam bahasa Indonesia dan benar-benar mempercayai artinya. Tibalah giliran saya “diartikan” namanya, dan keluarlah sebuah arti yang agak aneh setelah saya mengetikkan nama saya….. Helikopter. Saya tidak puas, itu adalah arti nama yang ganjil, dan nama saya juga memang agak ganjil. Berbagai pertanyaan pun memenuhi kepala saya yang kecil itu. Mengapa ibu saya menamai saya dengan arti helikopter? Apa saya lahir di dalam helikopter?

Maka, pulanglah saya ke rumah. Saya pun langsung menanyakan perihal nama tersebut kepada ibu saya. Ibu saya tertawa. “Kamu dibodohi alat elektronik. Itu pasti karena bentuk katanya mirip helikopter, jadi diterjemahinnya helikopter.” “Ooooh..” saya menggut-manggut.

Setelah ditelusuri lebih lanjut, ternyata nama “Heldira” dipilih karena dalam proses melahirkan saya, saya harus diberi suntikan rangsangan agar saya mau “keluar” dalam persalinan normal. Kata ibu saya sih istilah untuk suntikan rangsangan itu namanya “Heldira” atau mirip-mirip; hanya ibu atau dokter persalinannya yang tahu. Sedangkan nama belakang saya “Larashati” itu artinya baik hati. Jadi ibu dan ayah saya berharap saya menjadi anak yang baik hati.