Mahasiswa, kreatifitas, dan inovasi. Dari yang artiket-artikel maupun berita yang saya baca selama ini, sebagian besar memuat dua tema: kreativitas mahasiswa dan aksi kritis mahasiswa. Dari pengamatan saya dan apa yang juga saya rasakan, masa menjadi mahasiswa adalah masa dimana otak manusia bekerja sangat maksimal menghasilkan ide-ide dan pemikiran baru, baik itu negative maupun positif.

Ide adalah hal yang sangat berharga. Dunia ini tidak akan bisa semaju sekarang tanpa ide-ide kreatif  dari manusia-manusia yang menghuninya, sehingga sangat disayangkan jika ide kreatif, sekecil apapun itu hanya terlupa atau tidak dikembangkan emnjadi inovasi dan realisasi.

Aleinikov, seorang pakar kelas dunia di bidang kreativitas yang telah menulis sekitar 100 buku dan artikel mengenai kreativitas dan inovasi menangkat sedikit mengenai novology. Novology membedakan  ada lima tingkatan universal dalam proses menciptakan hal baru. Lima tingkatan tersebut berlaku di alam semesta, hidup, sejarah, bidang pendidikan, dan lainnya. Kelima tingkatan tersebut adalah:

Dr. Andrei Aleinikov
  • Existential: Segala sesuatu ada yang mengawali terlebih dahulu, kemudian hal-hallain pun turut hadir mengikuti
  • Communicational: Ketika sesuatu telah tercpta, hal tersebut akan berhubungan atau berkomunikasi dengan proses lainnya.
  • Instrumental: Hubungan yang bersifat instrumental akan membawa kita menciptakan alat-alat atau alat-alat bantu.
  • Orientational: Alat-alat atau alat-alat bantu tersebut harus diarahkan kegunaannya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna (untuk lingkungan, masyarakat, sosial).
  • Innovational: Segala sesuatu yang diciptakan untuk masyarakat adalah inovasi yang memberikan objek baru, fitur baru, produk baru.

Sekarang kita telah melihat jelas bahwa kreatifitas dan inovasi tidak selalu harus menciptakan sesuatu dari nol, suatu modifikasi dan penambahan fitur pada ide yang telah ada pun telah masuk dalam kategori kreativitas,yang tentunya harus dapat diimpelemtasikan secara nyata dan bermanfaat. Lagi-lagi, mahasiswa adalah pelaku yang sangat dan harus potensial untuk memproduksinya. Disini, kita telah melihat sebuah peluang, bahwa usia mahasiswa sangat duibutuhkan oleh dunia dan masa depan untuk dapat berkreatifitas.

Bila kita rajin mencari informasi dan rajin membaca media komunikasi, berbagai macam opportunity terbuka lebar untuk mahasiswa agar dapat merealisasikan kreativitas dan inovasi mereka. Sebagai contoh: berbagai perlombaan ide bisnis semisal Loreal, perlombaan karya ilmiah dari kampus dan perusahaan ilmiah, kesempatan magang di majalah, dan masih banyak yang lainnya. Para penyedia peluang-peluang tersebut adalah pemerintah, kampus, perusahaan-perusahaan baik negeri amupun swasta, media komunikasi, maupun seorang investor. Mahasiswa bukan lagi anak kecil yang harus disuapi informasi bukan? Maka, mahasiswa-lah yang harus menemukan opportunity-nya sendiri. Proses pencarian tersebut juga dapat menjadikan seseorang mahasiswa dapat lebih mengerti dan menghargai kesabaran dan seni dari suatu proses.

Namun, setiap usaha pasti ada hambatan atau aral yang melintang. Terdengar klise memang. Tetapi, bila kita telaah dari pengalaman-pengalaman terdahulu para kreator, mereka pasti pernag mengalami hambatan dalam proses kreativitas mereka. Hal-hal tersebut dapat berasal dari dalam diri mereka sendiri (internal), maupun factor eksternal.

Faktor-faktor internal yang saya maksud adalah:

2. Kondisi emosional mahasiswa

Usia mahasiswa bisa dibilang usia “remaja hampir dewasa”, dimana kondisi emosional manusia belum dapat diartikan dalam kondisi yang akan selalu stabil dikarenakan belum banyak pengalaman yang dialami. Mahasiswa dapat saja menjadi pemalas tiba-tiba dan tidak lagi bersemangat melanjutkan ide kreatifnya.

2. Kondisi fisik

Mahasiswa, dengan semua tugas dari para dosen yang menumpuk yang mengakibatkan kurangnya istirahat, seringkali mengalami gangguan kondisi kesehatan yang sangat akan menghambat segala aktivitas dan ide kreatifnya.

Sedangkan, factor-faktor eksternal yang saya maksud adalah

1. Keluarga

Tak sedikit keluarga, yang masih berpandangan konservatif dan cenderung “ingin aman” justru menghambat anak-anaknya dalam proses kreativitas mereka. Selain itu, keretakan keluarga pun akan sangat mempengaruhi penggunaan waktu mahasiswa untuk suatu hal yang berguna. Mereka dapat menghabiskan waktu mereka untuk merusak diri mereka dan melakukan kegiatan yang merugikan bagi orang lain, dikarenakan kurangnya kasih sayang dan kepedulian dari keluarga.

2. Teman

Teman adalah hal yang paling berpengaruh dalam hidup suatu mahasiswa. Bagaimana tidak? Waktu mereka yang sebagian besar dihabiskan berkuliah di kampus dan melakukan kegiatan social, tentunya selalu melibatkan teman. Teman yang tidak mendukung dan malas untuk berkreasi berpotensi besar mempengaruhi teman lainnya untuk melakukan hal yang sama.

3. Kampus

Kampus adalah institusi yang bertanggung jawab dan wajib memberikan sarana bagi mahasiswa untuk mengembangkan diri. Namun, apda kenyataannya tidak sedikit kmpus yang kurang mneyediakan sarana bag majasiswanya untuk berkreasi. Tentunya tak lain dan tak bukan dikarenakan faktor uang dan kurangnya kesadaran akan pentingnya berinovasi bagi para dosen dan pengurus kampus.

4. Pemerintah

Sama seperti kampus, kurangnya kesadaran akan pentingnya berinovasi bagi para pemerintah dan sikap mendahulukan kepentingan diri sendiri, akan sangat menghambat proses kreativitas mahasiswa.

5. Penyalahgunaan Teknologi

Sebenarnya, teknologi tentunya diciptakan oleh para ilmuwan untuk menunjang proses inovasi lanjutan oleh para penggunanya, namun tak jarang teknologi disalahgunakan untuk hal-hal yang bersifat menyenangkan sementara dan membuang-buang waktu, bahkan kejahatan.

Ternyata setelah kita lihat lebih dalam, hambatan-hambatan dalam berinovasi sangatlah banyak, dan itupun masih banyak lagi yang lainnya. Bagaimana kita dalam menghadapinya? Saya hanya memikirkan tiga cara: NIAT dan MULAI LAKUKAN.

Dengan niat, kita akan sepenuh hati dalam melakukan sesuatu. Dengan memulai melakukannya, maka fase paling berat telah terlewati dan kita tinggal melanjutkannya dengan niat yang masih dipertahankan.

Semoga saya dan kita semua dapat mengukir niat lebih dalam dan mulai untuk melakukan ide-ide kreatif dan inovatif, biarpun dari hal yang sederhana namun penting seperti yang saya lakukan sekarang; mengkreasikan tulisan sederhana ini sebagai UTS mata kuliah “Creativity and Innovation”.

Advertisements